"Kalau banteng tidak punya tanduk, semua orang mau jadi matador!" - anonim
"Kesulitan memperkuat pikiran, sebagaimana kerja keras memperkuat tubuh" - Seneca
Oleh: Hingdranata Nikolay
Dalam sebuah seminar baru-baru ini, seorang peserta mengunkapkan perasaannya kepada saya mengenai pekerjaannya yang saat ini sedang memberikan tantangan emosional yang sangat besar kepadanya. Kesan pertama saya adalah betapa cintanya pada kerjaannya. Ia pun terkesan sebagai seorang yang sangat pandai dan mempunyai kompetensi tinggi. Dari interaksi dengan teman-temannya di kelas training, saya persepsikan ia sebagai seorang yang cukup disegani di antara mereka.
Saya katakan sebuah kalimat sederhana, "Standard kemampuan seseorang dinilai dari tantangan yang ia hadapi!". Ia dengan cepat menangkap maksud saya dan segera air mukanya berubah seketika. Lalu saya lanjutkan, "Tantangan tersebut tidak akan datang ke Bapak, seandainya Bapak dianggapnya tidak punya kelas yang cukup untuk menghadapinya! "
Kesulitan, tantangan, masalah, apapun istilahnya, datang menghampiri setiap orang, dengan tingkat dan kapasitas yang berbeda-beda. Semakin tinggi reward yang terjanjikan, semakin tinggi tingkat tantangan yang akan tersedia. Kalau mudah untuk menjadi seorang Direktur, maka siapapun mau dan bisa menjadi Direktur. Kalau mudah duduk di sebuah posisi yang tidak mengenakan, maka tidak ada satupun posisi atau fungsi di dunia ini yang akan dihindari. Semakin tinggi posisi, semakin besar tanggung jawab, semakin lebar jangkauan, semakin besar tantangan, semakin luar biasa reward. Saat kita menghindari tantangan tertentu, kita sebenarnya sedang menentukan batasan kualitas atau ukuran kelas kita. Apakah kita harus hadapi semuanya? Tidak harus, itu soal PILIHAN. PILIHAN tingkat kita masing-masing. Yang pasti, saat banteng mempunyai tanduk yang besar dan tajam, hanya matador sejati yang berani maju dan menghadapinya. Kalau bantengnya tidak mempunyai tanduk, apakah ada bedanya antara seorang matador dengan siapa saja?
Hanya orang-orang dengan pikiran terlatih oleh masalah atau tantangan yang bertumbuh menjadi bijak. Pikiran kita menjadi kuat dengan menghadapi kesulitan, bukan dengan kemudahan. Karena itu pilihannya adalah berterima kasih atas kesempatan untuk memperkuat pikiran kita saat kita menghadapi tantangan. Saat tubuh kita terlatih setiap hari untuk mengangkat beban 50kg, maka apapun dengan berat 50kg tidak akan menjadi masalah bagi kita. Saat kita naikan latihan beban kita ke 100kg, maka kekuatan kita pun bertambah. Pikiran pun sama saja. Setiap kesulitan akan mendorong keluar setiap kemampuan berpikir kita, sadar maupun bawah sadar. Semakin besar kesulitan, semakin tinggi pula kekuatan pikiran kita!
PILIHAN hari ini, kawanku: maju dan hadapi tantangan dan kesulitan Anda. Tantangan tersebut melambangkan kelas Anda, dan ingat bahwa setiap kesulitan hanya akan memperkuat Anda!
Have a positive day!
Hingdranata Nikolay
Licensed Trainer of NLP
Design Human Engineer
Menciptakan Kreasi, Menumbuhkan Imaginasi, Menggapai Kesuksesan, Meloncat Menuju Masa Depan
berselancar yuk..
Minggu, 24 Mei 2009
hidup dengan mencerahkan...
“Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku juga akan mengingat kalian.”
(QS. al-Baqarah: 152)
"Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar"
Khalifah ‘Umar
"Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk"
Imam An Nawawi
"Pengetahuan tidaklah cukup; kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup; kita harus melakukannya"
Johann Wolfgang von Goethe
(QS. al-Baqarah: 152)
"Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar"
Khalifah ‘Umar
"Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk"
Imam An Nawawi
"Pengetahuan tidaklah cukup; kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup; kita harus melakukannya"
Johann Wolfgang von Goethe
Berbagi Semangat...
Dua orang pria,keduanya menderita sakit keras,sedang dirawat disebuah kamar rumah sakit. Seorang diantaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskan duduk ditempat tidur selama satu jam disetiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan,tempat tidurnya berada tepat disisi jendela satu-satunya yang ada dikamar itu.Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus diatas punggungnya.
Setiap sore,ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela diperbolehkan untuk duduk,ia menceritakan tentang apa yang terlihat diluar jendela kepada rekan sekamarnya.Selama satu jam itulah,pria kedua merasa segitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada diluar sana."Diluar jendela,tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan ditengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh diatas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona.
Suatu senja yang indah."Pria pertama itu menceritakan keadaan diluar jendela dengan detail,sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya dirumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat,percaya dirinya bertambah.Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk didekat jkendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Mesti pria yang kedua tidak dapat mendengar suara parade itu,namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata indah.
Begitulah seterusnya,dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlallu.Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat yang lain untuk memindahkan keruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar bisa dipindahkan ketempat tidur didekat jendela itu. Perawat itu menuruti kemauanya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya.
Ketika semuanya selesai,ia meninggalkan pria tadi seorang diri didalam kamar.Dengan perlahan dan kesakitan,pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Hatinya tegang,perlahan ia menjenggukan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya.
Apa yang dilihatnya? Ternyata,jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!
Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah elihat semua pemandangan yang luar biasa indah dibalik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun.
"Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup" kata perawat itu.
Setiap sore,ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela diperbolehkan untuk duduk,ia menceritakan tentang apa yang terlihat diluar jendela kepada rekan sekamarnya.Selama satu jam itulah,pria kedua merasa segitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada diluar sana."Diluar jendela,tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan ditengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh diatas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona.
Suatu senja yang indah."Pria pertama itu menceritakan keadaan diluar jendela dengan detail,sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya dirumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat,percaya dirinya bertambah.Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk didekat jkendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Mesti pria yang kedua tidak dapat mendengar suara parade itu,namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata indah.
Begitulah seterusnya,dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlallu.Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat yang lain untuk memindahkan keruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar bisa dipindahkan ketempat tidur didekat jendela itu. Perawat itu menuruti kemauanya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya.
Ketika semuanya selesai,ia meninggalkan pria tadi seorang diri didalam kamar.Dengan perlahan dan kesakitan,pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Hatinya tegang,perlahan ia menjenggukan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya.
Apa yang dilihatnya? Ternyata,jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!
Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah elihat semua pemandangan yang luar biasa indah dibalik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun.
"Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup" kata perawat itu.
kali ini momenku mengenal indonesia...
Mata mereka dengan tegas menyatakan keinginan mewujudkan masyarakat yang sejahtera, dari sorot mata mereka terbersit keinginan agar daerah mereka berkembang meskipun hal tersebut cukup sulit diwujudkan dalam waktu singkat, mata mereka menyadarkan saya peran mereka yang tanpa pamrih untuk tetap tegar memberikan pelayanan kepada masyarakat, meskipun dengan kondisi kantor yang kecil, sumpek, tidak terurus, dan dapat dipastikan dalam beberapa waktu kedepan kantor tersebut akan roboh.
Inilah gambaran yang saya temukan dari sosok seorang lurah di suatu kabupaten yang cukup jauh diperbatasan negara kita dan negara malaysia ketika saya sedang melaksanakan penelitian bersama rekan saya mengenai perencanaan pembangunan daerah. Sosok patriotik dengan nafas dan umurnya yang dimakan zaman namun tetap berupaya memerahputikan wilayahnya, sekitar 6 jam perjalanan paling cepat dari ibukota provinsi untuk mencapai kabupaten ini yang harus dilalui dengan perjuangan banyak bernafas panjang serta badan yang harus senantiasa berguling dari kiri ke kanan ibarat kapal yang tengah menghadapi badai ombak besar dilautan. Yah.. itulah kondisi negara kita, pembangunan yang tidak merata menjadikan wilayah ini belum dapat menaikkan gigi/ perseneling kecepatan mobil ketingkat yang lebih tinggi dengan hanya memainkan gigi 1 sampai 2 saja.
Tetapi setidaknya melalui otonomi daerah yang diberlakukan pada wilayah ini sekitar 10 tahun yang lalu, daerah ini sudah mulai ber-make up menjadi wilayah yang hendak berkembang dan hidup. Mulai menata daerahnya dengan tetap memperhatikan kearifan lokal yang dimiliki serta tidak melupakan pembangunan wilayah pesisir, pedalaman, dan wilayah perbatasan didaerahnya secara optimal. Banyak hal yang memang perlu untuk dibenahi lebih lanjut...
Inilah gambaran yang saya temukan dari sosok seorang lurah di suatu kabupaten yang cukup jauh diperbatasan negara kita dan negara malaysia ketika saya sedang melaksanakan penelitian bersama rekan saya mengenai perencanaan pembangunan daerah. Sosok patriotik dengan nafas dan umurnya yang dimakan zaman namun tetap berupaya memerahputikan wilayahnya, sekitar 6 jam perjalanan paling cepat dari ibukota provinsi untuk mencapai kabupaten ini yang harus dilalui dengan perjuangan banyak bernafas panjang serta badan yang harus senantiasa berguling dari kiri ke kanan ibarat kapal yang tengah menghadapi badai ombak besar dilautan. Yah.. itulah kondisi negara kita, pembangunan yang tidak merata menjadikan wilayah ini belum dapat menaikkan gigi/ perseneling kecepatan mobil ketingkat yang lebih tinggi dengan hanya memainkan gigi 1 sampai 2 saja.
Tetapi setidaknya melalui otonomi daerah yang diberlakukan pada wilayah ini sekitar 10 tahun yang lalu, daerah ini sudah mulai ber-make up menjadi wilayah yang hendak berkembang dan hidup. Mulai menata daerahnya dengan tetap memperhatikan kearifan lokal yang dimiliki serta tidak melupakan pembangunan wilayah pesisir, pedalaman, dan wilayah perbatasan didaerahnya secara optimal. Banyak hal yang memang perlu untuk dibenahi lebih lanjut...
Langganan:
Postingan (Atom)