berselancar yuk..

Google
www motivasi-opini-rustan.blogspot.com

Senin, 23 Juni 2008

Sang Juara...

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang begitulah aturannya.

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah, memang mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua. Sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 pembalap kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.

Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang tertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata,”Ya, aku siap!”

DOR !!!
Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat menjagokan mobilnya masing-masing. “ayo… ayo… cepat… cepat… maju… maju…”, begitu teriak mereka. Ahha… sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. “terima kasih”

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya ” hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan ???”. Mark terdiam. ”bukan pak, bukan itu yang aku panjatkan” kata Mark.

Ia lalu melanjutkan,”sepertinya tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. ”Aku hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah”. Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengar gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.

adapted from irfan-seeds

Sebuah Renungan...

Jaman sekarang ini...
orang-orang pada nampang foto di setiap sudut jalan..
entah pesan apa yang disampaikan, yang jelas fotonya lebih besar dibanding makna yang ingin disampaikan...
entah popularitas yang ingin dicari...
atau sekedar memperkenalkan dirinya...
tidak kalah sibuknya para pemegang jabatan pemerintahan, ikut nampang juga...
he... he...
kacau...
khan gak penting mukanya khan !!!!
yang penting apa pesan yang ingin di berikan kepada masyarakat..
karena masyarakat indonesia sekarang sudah cerdas...

Bunga Untuk Mama...

Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memsan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, “saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya Cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu”

Pria itu tersenyum dan berkata, “ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kamu mau”. Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai bunga mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya “ya, tentu saja. Maukah anda mengantar ke tempat ibu saya?”

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.

Melihat hal ini, hati pria ini menjadi terenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke took bunga tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

(diadaptasi dari : rose for mama – C. W. McCall)