Tulisan saya ini telah dimuat pada Harian KALTIM POST
Pada Tanggal 28 Februari 2008
Negara yang Top Farm seperti Indonesia secara mengejutkan menghadapi masalah ketahanan pangan. Sektor pertanian yang menjadi tumpuan di tengah kondisi perekonomian yang kian terpuruk saat ini harus tertatih-tatih mempertahankan gelar “Leading Sector” yang disandangnya. Sektor yang dulunya ibarat air digelas yang semakin penuh dimana akan membanjiri sekitarnya, justru hampir kehabisan air.
Mengapa tidak ? sebenarnya kita tahu sektor yang masih cukup besar menunjang perekonomian kita berasal dari sektor ini. Dan sebenarnya kita semua tahu bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan sektor-sektor yang lain (hilir) maka sektor pertanian (hulu) yang harus dipermantap terlebih dahulu.
Sebenarnya kita juga tahu, bahwa jika sektor pertanian terganggu (harga, produksi, ketersediaan, dll) akan menyebabkan terganggunya sektor-sektor lainnya baik politik, ekonomi, sosial, budaya, bahkan keamanan pun akan terganggu. Bercermin pada kondisi saat ini dimana harga kedelai (juga terancam pada tanaman biji-bijian lainnya) meningkat tajam sedang ketersediaannya di dalam negeri sangat kurang dibanding kebutuhan yang begitu besar mengharuskan kita untuk menghapus bea impor kedelai ini (dimana kita tahu bahwa sejak dulu jumlah kedelai di tanah air ditopang ± 60 % dari kedelai impor) dari dulu semenjak dahulu hal-hal tersebut terjadi, tapi mengapa jalan keluar permasalahan tersebut sampai sekarang ataukah baru sekarang di upayakan solusinya. Apakah Negara ini terlalu disibukkan oleh banyaknya musibah yang menimpa kita ataukah karena kinerja aparat terkait yang belum maksimal untuk mengatasi problematika ini ataukah predikat Negara consumer telah menjadikan kita malas untuk berproduksi.
Kita tahu bahwa pada era 80-an kita bisa mengacukan jempol pada sektor pertanian yang telah membawa tanah air tercinta ini dikenal oleh seluruh dunia melalui swasembada pangannya. Namun takkala sektor ini masih terus berbenah, proses transformasi struktur ekonomi yang segera beralih ke arah industrialisasi (dimana kita tahu sektor ini rentan resiko ekonomi dunia) yang terlalu dipercepat tanpa disertai perencanaan yang matang (immature) seakan menjungkalkan bangsa ini di tengah keterpurukan. Ketahanan Pangan pun menjadi fokus perbincangan yang laris manis didiskusikan. Begitu besarnya pengaruh sektor pertanian terhadap sektor lainnya sepatutnya dijadikan dasar pemikiran yang mendalam bagi pengambil kebijakan di Negara ini.
Berbekal ketahuan kita tersebut, sebaiknya saat ini kita dapat menyusun langkah-langkah keberpihakan kita pada pengembangan sektor yang pada jaman sekarang ini Kekurangan Peminat dalam pengelolaannya karena dianggap tidak lagi menguntungkan. Revitalisasi pertanian yang menjadi jargon utama saat ini bakal terkendala jika tidak disertai oleh perbaikan infrastruktur, rehabilitasi, serta pengawasan. Mempermudah penyaluran Alsintan dan Saprodi kepada masyarakat tani, disamping itu keterbukaan para petani untuk menerima inovasi, pengetahuan, serta informasi dari penyuluh lapangan menjadi faktor pendukung pembangunan sektor ini.
Pemerintah saat ini perlu mengupayakan lebih intens dan kembali menonjolkan keunggulan daerah untuk meningkatkan produktivitas pertaniannya melalui usaha-usaha Spesialisasi, Diversifikasi serta Intensifikasi. Ditambah akses tataniaga/ pemasaran hasil produksi untuk mencegah disparitas harga, kemudahan pengembangan usaha tani melalui konsep pembiayaan yang mudah dan tidak berbelit, serta penyimpanan (storage) yang terkontrol (tidak hanya pangan beras) untuk mengamankan ketersediaan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat merupakan wujud Political Will keberpihakan pemerintah pada sektor pertanian.
Terjadinya peningkatan produksi pertanian tahun 2007 sebesar 4,8 % dibanding tahun sebelumnya mengindikasikan kebangkitan sektor ini. Hal lain yang perlu dilakukan adalah bagaimana memotivasi para petani atau kelompok petani untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, kualitas, serta ekspansi pengembangan usaha taninya, misalnya dengan pemberian insentif/ hadiah untuk kelompok tani atau desa yang produksi taninya paling tinggi (seperti konsep HBS di kota samarinda) ataukah memberikan penghargaan kepada petani yang melakukan inovasi-inovasi di bidang pertanian, serta giat melakukan temu wicara dengan kelompok-kelompok tani, dan lain-lain.
Kemajuan dan keberhasilan sektor pertanian pun perlu dipublikasikan lebih luas oleh seluruh media (tidak hanya masalah dan kegagalan) guna membangkitkan positif image terhadap sektor yang dimana amat berperan dalam penyedia bahan pangan, industri, serta devisa bagi Negara ini.
Hal penting yang perlu ditekankan adalah fungsi pengawasan multisector mulai dari on-farm hingga off-farm guna mendukung pembangunan sektor yang masuk ke dalam 3 agenda penting wacana nasional saat ini. Menarik kata seorang pengamat ekonomi pertanian yang mengatakan Sukses kinerja sebuah rezim pemerintahan harus diukur dari keberhasilan membangun pertanian dan bukan dari indikator semu semata seperti naiknya indeks harga saham atau kuatnya cadangan devisa, jika semua itu ternyata tidak berkorelasi atau termanifestasi pada kehidupan di bawah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih telah mengunjungi blog saya, mohon perkenan memberikan komentar/ opini/ saran/ masukan/ dll... good luck to you :)