berselancar yuk..

Google
www motivasi-opini-rustan.blogspot.com

Jumat, 26 Desember 2008

Good Story...

semoga cerita ini membuat kita dapat berbuat lebih baik lagi dan...
yang terpenting adalah dapat bermanfaat bagi semua orang terutama keluarga...

Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.

"Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?" tanya si Pemuda."Oh... Saya mau ke Jakarta terus "connecting flight" ke Singapore nengokin anak saya yang kedua" jawab ibu itu."Wouw..... hebat sekali putra ibu" pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.
"Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya bu?? Bagaimana dengan kakak-adiknya??

"Oh ya tentu " si Ibu bercerita : "Anak saya yang kedua seorang dokter di Malang, yang ketiga Kerja di Perkebunan di Lampung, yang keempat menjadi arsitek di Jakarta, yang kelima menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang keenam menjadi Dosen di Semarang."

"Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke enam.
"terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??"

Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, "anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar nak"

Pemuda itu segera menyahut, "Maaf ya Bu..... kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani "

Dengan tersenyum ibu itu menjawab,"Ooo ...tidak tidak begitu nak.... Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani"


Today's lesson :

Everybody in the world is an important person.
Open your eyes. ...your heart....your mind....your point of view because we cant make summary before read "the book" completely.
The wise person says...The more important thing is not WHO YOU ARE But WHAT YOU HAVE BEEN DOING

From : dwie yogi dalam http://ayur3ngg4ni.blogspot.com/search/label/hikmah

Monumen Kebaikan

Lihatlah diri kita hari ini. Perhatikan tiap lekuk diri dan tabiatnya, perangai dan sikap, watak dan karakter, juga fisik dan tekstur hati di dalamnya. Kemudian, renungkanlah tentang diri kita, peran kita, kontribusi, juga atribut lain yang membawa kita pada kebaikan. Siapa pun kita, adalah hasil rekontruksi pengalaman dan pendidikan yang kita kecap sebelumnya di masa lalu.

Si tukang semir, akan berkarya dengan kemampuannya. Menyemir sepatu setiap hari, tidak hanya untuk makan sehari-hari, tetapi lebih dari itu. Ia membuat sepatu-sepau berkilap dan enak dipandang mata. Sepatu pejabatkah, karyawan, pegawai negeri, bahkan siapa pun mereka yang ingin tampil necis dan rapi. Dan dengan itu, si tukang semir memiliki monumen kebaikan yang dapat dibanggakan, sepatu-sepatu yang berkilap.

Atau sesekali, longoklah si penjaga pintu kereta api. Begitu remeh nampak pekerjaannya. Tak memerlukan keahlian khusus. Tak perlu mengenal komputer, apalagi ijazah sarjana strata satu. Syaratnya cuma satu, yang penting mau menunggu kereta dengan jadwal yang sudah ditetapkan, entah malam atau siang. Pekerjaannya pun terbilang sederhana kalau tak pantas disebut monoton. Hanya menunggu instruksi lewat radio akan kedatangan kereta, lalu menutup palang perlintasan jalan agar para pengguna jalan tak melaluinya. Selesai. Namun, pernahkah kita tahu bahwa di Indonesia masih banyak lintasan kereta yang tak dijaga? Akibatnya, banyak nyawa yang melayang sia-sia dari kecelakaan kereta dengan mobil atau motor yang melintasinya.

Ada lagi penyapu jalanan. Setiap pagi, ia bangun sebelum ayam berkokok dan matahari menyapa manusia. Dalam gelap dan dingin pagi yang masih dini, menggigiti mereka menyusuri jalan-jalan dan trotoar yang kotor dengan sampah hari kemarin. Sapu yang mereka genggam, adalah kebaikan yang mengalir pagi itu menjelang matahari meninggi. Dan begitu setiap hari, tanpa presensi. Sehingga, setiap hari yang mereka lalui adalah keindahan hari buat kita saat melalui jalan-jalan dan trotoar kota yang bersih, serta membuat kita begitu bersemangat ketika berangkat ke kantor setiap pagi.

Siapa pun kita, anda atau pun saya. Pekerjaan kita, status kita, atau titel kita dalam himpunan masyarakat yang luas sekalipun, adalah pengrajin-pengrajin dalam monumen kebaikan. Tukang semir sepatu atau penjaga pintu lintasan kereta hanyalah potret kecil dari kalangan masyarakat yang kerap dimarjinalkan, namun memiliki monumen kebaikan yang dapat dibanggakan.

Tak dipungkiri, kelak, saat di Hari Penghisaban, Allah SWT akan memanggil mereka dengan sebutan yang paling indah, Ahli Kebaikan. Kemudian, dihadapkan kepada mereka monumen kebaikan yang tinggi menjulang nan indah yang mampu membuat iri jutaan manusia lainnya.

Lalu, bagaimana dengan para pemimpin, pengusaha, eksekutif muda, dan direktur yang memimpin sebuah perusahaan kebaikan? Seharusnya, di tangan-tangan merekalah kebaikan itu menjadi sebuah komoditi utama setiap pribadi muslim yang hanif. Kebaikan yang menjadi barang konsumsi utama namun tak langka atau mahal yang dapat dijangkau masyarakat miskin sekalipun. Sehingga, setiap kita memiliki monumen kebaikan yang patut dibanggakan di hadapanNya kelak.

Insya Allah....Amin

From : trityatmo bowolaksono bowolaksono [bowltea@yahoo.com] dalam http://ayur3ngg4ni.blogspot.com/search/label/Motivasi

Tuhan, beri aku waktu 1 jam saja ...

Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh di seluruh kota. Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil. Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya. Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, dan belum setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada dikantong. Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1 tahun. Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.

Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata: 'Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur disini.' Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah kembali. Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika. Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suami nya, dan bila malam tidur di emperan toko itu.

Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu,orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil, dan jadilah mereka pengemis di sana selama 6 bulan berikutnya. Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk bekerja. Masalahnya adalah di mana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir 2 tahun, dan tampak amat cantik jelita. Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu disitu dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka. Suatu pagi ia berpesan pada anak gadisnya, agar ia tidak kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau menawarkan gula-gula. Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat. Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan kita tidak lagi tidur dengan angin di rambut kita. Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, dan membaringkan anak nya dengan hati-hati di dalamnya. Di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti.

Kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju ke pabrik sepatu, di mana ia bekerja sebagai pemotong kulit. Begitu lah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga di kantong sang Ibu kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh. Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, dan membayar uang muka sewa kamarnya. Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa, dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota. Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya dan membawanya ke sebuah rumah mewah dipusat kota. Di situ gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun.

Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan mereka memanjakannya dengan amat sangat. Di tengah-tengah kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano. Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi. Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya,dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat. Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif di gereja, dan yang sedang menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figur gadis yang menjadi impian tiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang bernama Geraldo.

Setahun setelah pernikahan mereka, ayahnya wafat, dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah di kota itu. Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah kehidupan wanita itu. Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di laci meja kerja ayah nya ia melihat selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri. Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam. Sesuatu di telinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu.

Kemudian ia membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi. Tapi diantara benda-benda mewah itu terdapat sesuatu terbungkus kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan emas murni. Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu anting-anting, di mana satunya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya.

Serrafona menaruh anting-anting itu didekat foto. Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang. Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri. Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum dibuat-buat, belum penah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanya annya, misalnya: kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya. Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat di benaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu.

Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama. Mata nya basah ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri suaminya yang sedang membaca koran: 'Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah ibu saya masih ada di jalan sekarang setelah 25 tahun?'

Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa lalu Serrafonna. Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan kepolisian diseluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan kantor catatan sipil. Ia membentuk yayasan -yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badan sosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita. Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah. Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah.

Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus meningkatkan pencarian mereka. Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad. Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang.

Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian. Pagi, siang dan sore ia berdoa: 'Tuhan, ijinkan saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup saya: temukan saya dengan ibu saya'. Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka menerimakabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka terbang ke tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka. Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu. Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya.

Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik. Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur. Untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya. Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka.

'Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi.' Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh dan banyak angin. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan. Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan berikut nya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan. Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. 'Lekas, Serrafonna, mama menunggumu, sayang'.

Ia mulai berdoa 'Tuhan, beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja'. Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: 'Tuhan beri saya sebulan saja'. Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka. Ia mendengar lagi panggilan mamanya , dan ia mulai menangis: 'Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan '. Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama Los Felidas. Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung.

Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak. Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya dan 3 mobil polisi. Di belakang mereka sebuah ambulans berhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis- pengemis yang segera memenuhi tempat itu. 'Belum bergerak dari tadi.' lapor salah seorang. Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya dan turun. Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya.

'Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu. Serrafona memandang tembok dihadapannya, dan ingat saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kakinya dan ingat ketika ia belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya. Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat.

'Tuhan, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya, beri kami sehari...... Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberitahunya bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia.... Jadi mama tidak menyia-nyia kan saya'. Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya. Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda.

'Mama.. ..', ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang ditunggunya tiap malam - antara waras dan tidak - dan tiap hari - antara sadar dan tidak - kini menjadi kenyataan. Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan lepas. Perlahan ia membuka genggaman tangannya, tampak sebentuk anting-anting yang sudah menghitam. Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring diatas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya.

'Mama, saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari. Mama jangan pergi dulu. Apapun yang mama mau bisa kita lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi dulu... Mama...' Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: 'Tuhan maha pengasih dan pemberi, Tuhan..... satu jam saja.... ...satu jam saja.....' Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia-sia.

Teman....mungkin saat ini kita sedang beruntung. Hidup ditengah kemewahan dan kondisi berkecukupan. Mungkin kita mendapatkannya dari hasil keringat sendiri tanpa bantuan orang tua kita. Namun yang perlu kita sadari, bahwa orang tua kita senantiasa berdoa untuk kita, meski itu hanya di peraduan.

http://ayur3ngg4ni. blogspot. com/2008/ 08/tuhan- beri-aku- waktu-1-jam- saja.html

Jumat, 26 September 2008

Inilah perkataan yang diucapkan ibu Teresa

Begitu indah melihat orang yang dengan jiwa besar
tidak mempersalahkan siapapun, tidak membandingkan
dirinya dengan orang lain. Seperti malaikat, inilah
jiwa yang besar dari orang-orang yang kaya secara
rohani sedangkan miskin secara materi.

* Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.
* Hidup adalah keindahan, kagumi itu.
* Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.
* Hidup adalah tantangan, hadapi itu.
* Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.
* Hidup adalah pertandingan, jalani itu.
* Hidup adalah mahal, jaga itu.
* Hidup adalah kekayaan, simpan itu.
* Hidup adalah kasih, nikmati itu.
* Hidup adalah janji, genapi itu.
* Hidup adalah kesusahan, atasi itu.
* Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.
* Hidup adalah perjuangan, terima itu.
* Hidup adalah tragedi, hadapi itu.
* Hidup adalah petualangan, lewati itu.
* Hidup adalah keberuntungan, laksanakan itu.
* Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu.

Hidup adalah hidup, berjuanglah untuk itu.

Sabtu, 06 September 2008

Apa Sih Arti Nyaman Itu ????

apa punya jabatan atau kedudukan yang tinggi...

padahal jabatan atau kedudukan yang tinggi tentunya memiliki beban kerja yang tinggi pula, tanggungjawab yang tinggi pula, waktu dan tenaga yang dibutuhkan juga besar pula... terkadang kita melihat hanya dari casing luarnya saja, berpikir bahwa dengan memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi sudah pasti nyaman...

KATANYA, KITA TIDAK BOLEH TERJEBAK PADA ZONA KENYAMANAN (comfort zone)... klo menurut saya yang disebut zona nyaman itu tidak pernah ada... yang ada hanyalah zona ketidakpastian... dan siapa yang siap untuk menghadapi akan ketidakpastian tersebut dapat dikategorikan orang yang mengalami tingkat kenyamanan tertinggi.

Hhmmm...

klo saya sih, mending menjalani pekerjaan, tugas, dan tanggungjawab kita dengan seoptimal mungkin... menunjukkan yang terbaik bagi organisasi, meskipun saya berada dibelakang layar atau meskipun organisasi kurang peka melihat hasil pekerjaan saya atau justru orang lain yang mendapatkan penghargaan tanpa tahu itu adalah hasil kerjaan saya sendiri...

menikmati semuanya dan tidak menjadikannya beban...

jikalau pada suatu kondisi kita dihadapkan pada tugas yang berat dan menumpuk...

tariklah nafas panjang-panjang dan katakan SEMANGATTT.... AYO KITA SELESAIKAN !!!

Insya ALLAH, kita akan semangat kembali...

Rabu, 03 September 2008

Apa Sih Arti Berfikir Itu...

"60% orang merasa mereka telah melakukan proses berfikir...
20% lain merasa bahwa mereka telah cukup berfikir saat sekolah...
10% selanjutnya jelas-jelas menolak keras untuk berfikir...
5% saja yang telah berfikir secara optimal & meraih solusi...
sedangkan sisanya memilih untuk mati daripada harus berfikir..."
(dikutip dari buku Being Happy, by Andrew Matthews)

Demikian tragis-kah apa yang terjadi pada manusia? dimana sebagian besar dari mereka merasa enggan untuk menggunakan 'tools' yang paling mulia dan paling bermanfaat yang dikaruniakan pada dirinya, yaitu pemikiran?A da sebuah iklan minuman energi untuk Anak yang menggambarkan seorang anak dengan dialog berbentuk awan komik, yang berkata pada ibunya sbb:"Berfikir juga perlu energi, Bu".

Pernyataan ini memang benar adanya, tetapi seberapa besar energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah ide besar dari pemikiran? Ternyata penelitian ilmuwan menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan bahwa untuk menghasilkan sebuah ide dari hasil pemikiran, hanyalah dibutuhkan sepersekian juta energi dari yang dibutuhkan untukmenyalakan lampu pijar, dengan demikian, proses pemikiran hanya butuh energi yang sangat sangat kecil untuk membuahkan sebuah gagasan/ide.

Jadi ide yang muncul di benak pencipta lampu pijar, pc komputer yang Andagunakan, mobil yang Anda kendarai, pesawat, obat-obatan, teknologi, dan lain sebagainya, muncul di benak pemikiran manusia dengan kebutuhan energi yang jauh lebih rendah dari energi yang dibutuhkan sebuah kalkulator!Saat ini pemikiran Anda memiliki energi yang jauh dari cukup untuk dapatmenghasilkan ide, gagasan, penemuan, solusi, kreatifitas dan berbagai masterpiece lain yang dapat merubah hidup Anda dan sesama, bahkanberguna untuk generasi selanjutnya,

maka dari itu, mari kita optimalkan kapasitas berfikir dan energi pemikiran yang berlimpah ini untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa, di atas segala sesuatu yang biasa-biasa saja.

(dikutip dari www.motivasi-sukses.com)

Sabtu, 30 Agustus 2008

Kisah di Tengah Gelombang

Tahun 1982 Steven Callahan berlayar melintasi Samudera Atlantik seorang diri menggunakan perahu layarnya yang akhirnya menabarak sesuatu lalu kemudian tenggelam. Dia meninggalkan kapalnya dan terombang ambing seorang diri diatas sekoci. Perbekalannya sangat terbatas. Kesempatan hidupnya sangat kecil. Namun ketika tiga orang nelayan menemukannya enam puluh delapan hari kemudian (ini merupakan rekor terlama seorang manusia yang selamat dari musibah kapal tenggelam dan bertahan hidup seorang diri di atas sekoci), dia hidup-walau lebih hitam daripada ketika berangkat, namun dia hidup.

Perjuangannya bertahan hidup sangatlah luar biasa. Kecerdikan akalnya bagaimana dia menangkap ikan, bagaimana dia menggunakan sinar matahari untuk menyuling air laut menjadi air tawar sungguh sangat mengagumkan. Namun hal yang menarik perhatian saya adalah bagaimana dia bisa tetap memiliki kemauan untuk terus berjuang sedangkan harapan hampir tidak ada. Sampai kapan dia harus berjuang sampai bertemu kapal yang bisa menyelamatkan dirinya pun tidak dia ketahui pasti.

Bagaimana dia begitu menderita ketika sekoci penyelamatnya bocor dan selama seminggu dengan badannya yang lemah itu dia berusaha memperbaikinya dan selama itu tubuhnya juga terforsir karena dia harus memompa sekocinya yang bocor agar tidak kempes dan tenggelam. Steven Callahan kelaparan, kehausan dan mengalami dehidrasi berat. Dia sangat letih.
Dalam keadaan itu bagi orang biasa rasanya tak ada gunanya lagi berusaha. Menyerah
seolah menjadi sebuah pilihan yang paling masuk akal. Ketika seseorang bertahan dalam keadaan seperti itu, mereka berbuat sesuatu terhadap pikirannya agar dapat memberikan semangat untuk terus berjuang. Kebanyakan orang bila berada dalam keadaan tersebut mereka menyerah atau jadi gila. Sesuatu yang dilakukan atas pikirannya oleh orang yang bertahan hidup mampu memberikan kekuatan untuk terus berjuang dan mengatasi keadaan – keadaan yang berat dan tidak menguntungkan.


“Saya katakan pada diri saya bahwa saya mampu melewati keadaan ini”, tulis Callahan dalam narasinya. “Dibandingkan dengan orang – orang lain yang mengalami keadaan itu, saya merasa lebih beruntung. Saya katakan hal itu terus menerus pada diri saya dan membangun ketabahan.
Saya pribadi sangat terkesan dengan cara Callahan membangun semangatnya, motivasinya dan tekadnya untuk dapat keluar dari keadaan survival tersebut. Saya juga mengatakan hal yang sama pada diri saya ketika cita – cita saya terlihat jauh, ketika problematika kehidupan nampak begitu perkasa di hadapan saya, dan… setiap kali saya katakan hal yang sama saya selalu bisa kembali mendapatkan integritas dan kekuatan dalam diri saya.


Sejatinya… apapun keadaan kita akan selalu lebih buruk jika kita membandingkannya dengan sesuatu yang lebih baik. Tapi coba kita lihat sekeliling kita dengan seksama,
bukankah ada lebih banyak orang yang mengalami hal yang lebih buruk dari apa yang sedang kita alami? Bukankah saya dan anda selalu lebih beruntung dimanapun kita dan kapanpun, tak peduli betapa buruknya keadaan yang kita alami bisa dibandingkan dengan fantasi – fantasi kita. Ini adalah sebuah pemikiran yang bagi saya lebih masuk akal dan bermanfaat.


Dari sisi sisi ekstrim sebuah keadaan survival seperti yang dialami Steven Callahan, kita dapat belajar untuk menginstall kata kata yang mampu membangkitkan motivasi dan kekuatan yang ada dalam diri kita. Seberat apapun masalah yang sedang anda hadapi, katakan pada diri anda bahwa anda mampu untuk mengatasinya. Dibandingkan dengan apa yang dialami orang orang lain, anda lebih beruntung. Katakan pada diri anda berulang – ulang dan ini dan hal ini akan membantu anda melewati masa masa sulit dengan tingkat ketabahan yang lebih baik.

Satu hal lagi yang perlu untuk selalu diingat, sebelum melangkah, persiapkan diri anda sebaik mungkin secara fisik dan mental. Steven Callahan tentunya tidak begitu saja tiba tiba memiliki pengetahuan dan kemampuan bertahan hidup di tengah gelombang samudera Atlantik yang ganas di atas sebuah sekoci karet. Sebelum melakukan pelayaran, tentunya dia sudah mempersiapkan diri baik fisik dan mental untuk menghadapi kemungkinan terburuk dalam petualangannya.

“Man must exist in a state of balance between risk & safety. Pure risk leads to self destruction, pure safety leads to stagnation. In between lies SURVIVAL and PROGRESS”

Salam Sukses dan Berkelimpahan Selalu

Michael Antony Ugiono
Inspiring Motivator & Mindset Consultant

Senin, 18 Agustus 2008

Persimpangan Sebuah Lembaga Pendidikan

dikutip dari motivasi sukses newsletter...

"Lembaga pendidikan bagaikan sebuah wadah pembuat pop corn, yang memberikan panas, tekanan, dan bumbu yang diperlukan agar jagung mentah dapat berkembang menjadi makanan yang disukaibanyak orang"

Namun memang hasilnya tidak selalu seragam, ada jagung yang melejitdan melompat jauh, jagung yang kualitasnya standar seperti kebanyakan lainnya, dan juga ada yang gagal mengembang, demikianlah kiranya hakikat pendidikan, walaupun tidak semua melejit ke angkasa, namunproses yang telah dijalani pastinya akan mengubah seseorang menjadisesuatu yang berbeda dari sebelumnya.

Sabtu, 05 Juli 2008

Seorang Bijak Pernah Berkata...

AMATILAH PIKIRANMU, KARENA AKAN MENJADI UCAPANMU…

AMATILAH UCAPANMU, KARENA AKAN MENJADI TINDAKANMU...

AMATILAH TINDAKANMU, KARENA AKAN MENJADI KEBIASAANMU...

AMATILAH KEBIASAANMU, KARENA AKAN MENJADI KARAKTERMU...

AMATILAH KARAKTERMU, KARENA AKAN MENJADI NASIBMU...

DIATAS SEMUA ITU, AMATILAH DIRI ANDA...

HANYA MEREKA YANG MENGENAL DIRINYALAH YANG AKAN MENCAPAI KETENANGAN DIRI YANG SESUNGGUHNYA...

Kasih Sayang Seorang Ibu

Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.

Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kamu mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.

Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, kau pakai telepon non-stop semalaman.

Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.

Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.

Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, ”Darimana saja seharian ini ? ”.
Sebagai balasannya, kau jawab, ”Ahh, Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang !”

Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karir di masa depan.
Sebagai balasannya, kau katakan, ” Aku tidak ingin seperti Ibu ”.

Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.

Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.

Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya dimasa depan.
Sebagai balasannya, kau mengeluh, ” Bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu ? ”.

Saat kau berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu.
Sebagai balasannya, kau katakan padanya, ” Bu sekarang jamannya sudah berbeda ! ”

Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat.
Sebagai balasannya, kau jawab, ” Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu ”

Saat kau berumu 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal dirumah anak-anaknya.

Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan kau tiba-tiba teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam Hati-mu bagaikan palu godam.

JIKA BELIAU MASIH ADA, JANGAN LUPA MEMBERIKAN KASIH SAYANGMU LEBIH DARI YANG PERNAH KAU BERIKAN SELAMA INI, DAN JIKA BELIAU SUDAH TIADA, INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU.

Disalin dari maya.diana dalam Ir.Andi Muzaki, SH, MT

Senin, 23 Juni 2008

Sang Juara...

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang begitulah aturannya.

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah, memang mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua. Sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 pembalap kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.

Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang tertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata,”Ya, aku siap!”

DOR !!!
Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat menjagokan mobilnya masing-masing. “ayo… ayo… cepat… cepat… maju… maju…”, begitu teriak mereka. Ahha… sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. “terima kasih”

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya ” hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan ???”. Mark terdiam. ”bukan pak, bukan itu yang aku panjatkan” kata Mark.

Ia lalu melanjutkan,”sepertinya tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. ”Aku hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah”. Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengar gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.

adapted from irfan-seeds

Sebuah Renungan...

Jaman sekarang ini...
orang-orang pada nampang foto di setiap sudut jalan..
entah pesan apa yang disampaikan, yang jelas fotonya lebih besar dibanding makna yang ingin disampaikan...
entah popularitas yang ingin dicari...
atau sekedar memperkenalkan dirinya...
tidak kalah sibuknya para pemegang jabatan pemerintahan, ikut nampang juga...
he... he...
kacau...
khan gak penting mukanya khan !!!!
yang penting apa pesan yang ingin di berikan kepada masyarakat..
karena masyarakat indonesia sekarang sudah cerdas...

Bunga Untuk Mama...

Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memsan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, “saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya Cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu”

Pria itu tersenyum dan berkata, “ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kamu mau”. Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai bunga mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya “ya, tentu saja. Maukah anda mengantar ke tempat ibu saya?”

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.

Melihat hal ini, hati pria ini menjadi terenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke took bunga tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

(diadaptasi dari : rose for mama – C. W. McCall)

Senin, 12 Mei 2008

"I Cried for My Brother Six Times"

Aku Menangis untuk Adikku

[ source : http://bj.sina.com.cn/art/20030421/33626.shtml diterjemahkan oleh http://www.taimeng.com/writing/ProseEng/i_cried.htm ]

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orangtuaku membajak tanah kering kuning, dan punggungmereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorangadik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yangmana semua gadis di sekelilingku kelihatan membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan akuberlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"

Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya! "Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marah, sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan nafas

Sesudahnya, beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yangbegitu baik. Hasil yang begitu baik."

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, saya telah cukup membaca banyak buku."

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti ayah mesti mengemis di jalanan, ayah akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang.

Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa kemuka adikku yang membengkak. Aku berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau tidak, ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku, "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimmu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas.

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!" Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?

Aku berjalan keluar dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kalau kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? "

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun juga !
Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. "Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku pulang ke rumah setelah menghadiri undangan pernikahan seorang teman, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih dimana-mana. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita !"

Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu. "Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan membalut lukanya. "Apakah itu sakit?" aku menanyakannya.

"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja dilokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."
Di tengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Seringkali suamiku dan aku mengundang orangtuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, dia mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Saat Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, ketika adikku sedang di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ia mendapat sengatan listrik, lalu masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata. Kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku! "Lalu ia berkata, "Mengapa membicarakan masa lalu?"Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorangg adis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?

"Tanpa berpikir, ia menjawab, "Kakak saya."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, sekolah kami ada di dusun yang berbeda. Setiap hari kakak dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Sedangkan ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.

"Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, didepan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Krisis : Peluang Atau Ancaman Pilih Yang Mana ???

Dalam Tulisan Tri Widodo W. Utomo, SH., MA.

Selamat Pagi..!!! Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin…

*Bila ditulis dalam bahasa Cina, kata krisis terdiri dari dua huruf. Yang satu mewakili ancaman dan yang satu lagi mewakili peluang* - *John F. Kennedy*.

Resiko selalu menakutkan karena ia menawarkan seratus kemungkinan, seribu ketidakpastian dan sejuta kegagalan. Bayang-bayang ini selalu mengerikan bagi siapa saja.


Tapi tahukah Anda bahwa resiko selalu menyembunyikan wajah satunya : peluang ? Peluang selalu menggoda siapa saja karena ia menjanjikan seratus kemungkinan, seribu harapan dan sejuta keberhasilan.

Jangan pernah memandang koin kehidupan dari sisi resiko, tapi baliklah, maka Anda akan menemukan sisi peluang. Mampukah Anda membalik takdir Anda dari resiko menjadi peluang ?

Ingat, tidak banyak orang yang berani melakukannya.

Sabtu, 10 Mei 2008

Tempayan Yang Retak

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung padakedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu daritempayan itu retak, sedangkan tempayan satunya lagi tidak. Tempayan yang utuhselalu dapat membawa air penuh, walaupun melewati perjalanan yang panjang darimata air ke rumah majikannya. Tempayan retak itu hanya dapat membawa airsetengah penuh.

Hal ini terjadi setiap hari selama dua tahun. Si tukang air hanya dapat membawasatu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan utuh merasa bangga akan prestasinya karena dapat menunaikan tugas dengan sempurna. Di pihak lain, si tempayan retak merasa malu sekali akan ketidaksempurnaanya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya ia dapat berikan.

Setiap Orang Memiliki kekurangan
Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak berkatakepada si tukang air, “Saya sungguh malu kepada diri saya sendiri dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya”
“mengapa?” tanya si tukang air,”mengapa kamu merasa malu ?”"Saya hanya mampu,selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa. Adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocorsepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telahmembuat mu rugi.”


Si tukang air merasa kasihan kepada si tempayan retak, dan dalam belaskasihannya, ia menjawab,” Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku inginkamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”
Tuhan sanggup memakai kelemahan kita untuk maksud yang indah.


Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan barumenyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali merasa sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor dan kembali tempayan retak itu meminta maaf kepada si tukang air atas
kegagalannya. Si tukang airberkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu tidak memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu ? tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan lain yang tidak retak itu ?” Itu karena aku selalu menyadari akancacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga disepanjang jalan di sisimu dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mataair, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini, aku telah dapatmemetik bunga-bunga indah itu untuk dapat menghias meja majikan kita. Tanpa adanya kamu , majikan kita tidak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”

Setiap orang memiliki cacat dan kelemahan sendiri. Kita semua adalah tempayanretak, namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk maksudtertentu. Dimata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma, Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu dapat menjadi sarana keindahan Tuhan.

Ketahuilah dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.

www.motivasi.web.id

Selasa, 06 Mei 2008

Aku Tidak Memilih Menjadi Insan Biasa

Puisi Penuh Motivasi dan Inspirasional
Karya Dean Alfange

Aku tidak memilih menjadi insan biasa
Memang hakku untuk menjadi luar biasa

Aku mencari kesempatan bukan perlindungan.
Aku tidak ingin menjadi warga yang terkungkung
Rendah diri dan terpedaya karena dilindungi pihak berkuasa
Aku siap menghadapi resiko terencana
Berangan-angan dan membinaUntuk gagal dan sukses


Aku menolak menukar insentif dengan derma
Aku memilih tantangan hidup daripada derma
Aku memilih tantangan hidup daripada kehidupan yang terjamin,
Kenikmatan mencapai sesuatu, bukan utopia yang basi.
Aku tidak akan menjual kebebasanku,Tidak juga kemuliaanku untuk mendapatkan derma,


Aku tidak akan merendahkan diri
Pada sembarang atasan dan ancaman.
Sudah menjadi warisanku untuk berdiri tegak, megah dan berani
Untuk berpikir dan bertindak untuk diri sendiri.
Untuk meraih segala keuntungan hasil kerja sendiri
Dan untuk menghadapi dunia dengan berani dan berkata:
”Ini telah kulakukan!”segalanya ini memberikan makna seorang insan

Selasa, 22 April 2008

Memaknai Usaha (Tukang Kayu dan Rumahnya)

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yangdiminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik.

Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. "Ini adalah rumahmu," katanya, "Hadiah dari kami."Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya.

Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain samasekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.Pada akhir perjalanan, kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.

Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpunkita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini.

(cerita-motivasi, rafaal khalid)

Seorang Teman Baik

(cerita-motivasi rafaal khalid)
Sewaktu kita duduk di taman kanak-kanak, kita berpikir kalau seorang teman yang baik adalah teman yang meminjamkan krayon warna merah ketika yang ada hanyalah krayon warna hitam.

Di sekolah dasar, kita lalu menemukan bahwa seorang teman yang baik adalah teman yang mau menemani kita ke toilet, menggandeng tangan kita sepanjang koridor menuju kelas, membagi makan siangnya dengan kita ketika kita lupa membawanya.

Di sekolah lanjutan pertama, kita punya ide kalau seorang teman yang baik adalah teman yang mau menyontekkan PR-nya pada kita, pergi bersama ke pesta dan menemani kita makan siang.

Di SMA, kita merasa kalau seorang teman yang baik adalah teman yang mengajak kita mengendarai mobil barunya, meyakinkan orang tua kita kalau kita boleh pulang malam sedikit, mau mendengar kisah sedih saat kita putus dari pacar,

Di masa berikutnya, kita melihat kalau seorang teman yang baik adalah teman yang selalu ada terutama di saat-saat sulit kita, membuat kita merasa aman melalui masa-masa seperti apapun, meyakinkan kita kalau kita akan lulus dalam ujian sidang sarjana kita.

Dan seiring berjalannya waktu kehidupan, kita menemukan kalau seorang teman yang baik adalah teman yang selalu memberi kita dua pilihan yang baik, merangkul kita ketika kita menghadapi masalah yang menakutkan, membantu kita bertahan menghadapi orang-orang yang hanya mau mengambil keuntungan dari kita, menegur ketika kita melalaikan sesuatu, mengingatkan ketika kita lupa, membantu meningkatkan percaya diri kita, menolong kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik, dan terlebih lagi... menerima diri kita apa adanya...

Kisah Keledai

Seorang ayah berjalan kaki menuntun keledai sementara anaknya enak-enakan duduk di atas punggung keledai. Seorang tetangga menegur hai Badu kamu dasar anak tidak tahu diri kamu enak-enakan di atas punggung keledai sementara ayah kamu kamu suruh berjalan kaki menuntun keledai.

Yah kalau begitu lebih baik ayah di atas biar saya yang menuntun keledai. Perjalanan terus dilanjutkan sampai di suatu kampung, orang kampung mengejek, dasar Bapak tidak tahu diri masak anak menuntun keledai sementara Bapak nya enak-enakan di atas punggung keledai. Si Bapak dan anak menjadi bingung mana yang benar sih. Kalau begitu sebaiknya Bapak dan saya sama-sama di atas. Perjalanan dilanjutkan sampai diperempatan jalan bertemu seorang Kakek, Cucu-cucu ku, kalian mau kemana masak keledai begini kecil, kurus kalian naiki berdua apa kalian tidak kasihan. Akhirnya mereka berjalan berdua dengan bercucuran keringat, sementara keledai hanya dituntun saja. Sampai di kampung yang dituju orang kampung berkata bapak ini dasar bodoh mau-mau nya jalan kaki bercucuran keringat sementara keledai tidak dinaiki.

Dari kisah tersebut saya ingin mengajak Kita semua agar tidak demikian adanya.

Memang terkadang menurut kita baik padahal menurut orang lain belum tentu baik, tetapi yang penting adalah baik menurut di hadapan Allah SWT..

Mending g usah dengerin apa yang orang lain omongin krn g akan pernah ada habisnya!jln aja terus berdasarkan keyakinan kita krn kita yang paling tau apa yang terbaik buat diri kita..

kebaikan itu ada 3 hal: 1. Baik menurut diri sendiri 2. Baik menurut orang banyak 3. Baik menurut Allah swt (inilah kebaikan yang hakiki).

memang dizaman /negara kita sekarang ini lebih senang menyalahkan orang lain dari pada melihat kesalahan diri sendiri

kita memang harus berani mengambil sikap, tegas, dan bangga dengan keputusan yang kita buat.


Cerita-Cerita Motivasi. web

Kekayaan, Kesuksesan, dan Kasih-Sayang

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.

Wanita itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut". Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?" Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar". "Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suami mu kembali", kata pria itu.

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini". Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam."Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama", kata pria itu hampir bersamaan. "Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran. Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, dan "sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu."Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar.

Suaminya pun merasa heran. "Ohho...menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan."Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita."Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang.

"Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang menjadi teman santap malam kita." Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini."Si Kasih-sayang bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho..ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. "Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga? Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan.

"Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun Kasih-sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang, maka kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta.Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini."

Jumat, 11 April 2008

Menurutku...

Motivasi biasanya muncul takkala kita menginginkan sesuatu...
Motivasi biasanya muncul takkala kita mendapat pelajaran berharga dalam kehidupan (entah itu dari buku, cerita-cerita, musibah, kegagalan, film, etc)...

Nah, kenapa motivasi bisa muncul ???
Menurut saya, itu dikarenakan adanya DORONGAN dan KETERDESAKAN...

Tapi bagaimana cara mempertahankan spirit motivasi tersebut ???
Hal paling mungkin adalah :

Dengan menggambarkan dalam pikiran kita kesenangan dan kebahagiaan yang diperoleh jika hal tersebut terwujud...

Dengan menggambarkan dalam imajinasi kita kesengsaraan, kesedihan, dan kepedihan yang diperoleh jika hal tersebut terwujud...

Terus Bergerak sesuai jalur tanpa harus memikirkan hasil akhir yang bakal diperoleh...

Jika terjatuh ke dalam lubang ditengah perjalanan, BANGKIT lah (karena gagal itu biasa, tapi BANGKIT itu LUAR BIASA).. dan teruslah bergerak, meski sakit rasanya...

Serta Tetap tekun mendoakan hal tersebut agar terwujud...

Tenang dalam Menghadapi Masalah

(www.antonhuang.com)

Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut.

Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.

Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut. Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.

“Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini?”, tanya si tukang kayu.“Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi ‘tik-tak, tik-tak’”.

Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada”, jawab anak itu.

Apa inti dari cerita motivasi di atas??

Silahkan sampaikan pendapat anda/tuliskan komentar anda…

Tidak Ada Yang Sempurna

Alkisah, ada seorang pelukis terkenal. Hasil lukisannya banyak menghiasi dinding rumah orang-orang kaya. Si pelukis dikenal dengan kehalusan, ketelitian, keindahan, dan kemampuan memerhatikan detail objek yang digambarnya. Karena itu, pesanan lukisannya tidak pernah berhenti dari para kolektor maupun pecinta barang-barang seni.

Suatu hari, setelah menyelesaikan sebuah lukisan, si pelukis merasa sangat puas dengan hasil lukisannya. Menurut pandangannya, lukisan itu sempurna. Maka, dia lantas bermaksud mengadakan pameran lukisan agar orang-orang dapat menikmati, serta mengagumi keindahan dan kehebatannya.

Saat pameran, si pelukis meletakkan sebuah buku di dekat lukisan dengan sebuah tulisan: "Yang terhormat, para pecinta dan penikmat seni. Setelah melihat dan menikmati lukisan ini, silakan isi di buku ini komentar Anda tentang kelemahan dan kekurangannya. Terima kasih atas waktu dan komentar Anda."

Pengunjung pun silih berganti mengisi buku itu. Setelah beberapa hari, si pelukis pun membaca buku berisi komentar pengunjung pameran dan dia merasa kecewa sekali dengan banyaknya catatan kelemahan yang diberikan. "Orang-orang ini memang tidak mengerti indahnya lukisan ini. Berani-beraninya mereka mengkritik!" batin si pelukis.

Dalam hati, dia tetap yakin bahwa lukisannya itu sangat bagus. Maka, untuk itu dia ingin menguji sekali lagi komentar orang lain, tetapi dengan metode yang berbeda. Untuk itu, ia membuat pameran sekali lagi, namun di tempat yang berbeda. Kali ini, ia juga menyertakan sebuah buku untuk diisi oleh pengunjung yang melihat lukisannya. Tetapi kali ini, penikmat lukisannya tidak dimintai komentar kelemahan, namun untuk memberikan komentar tentang kekuatan dan keindahan lukisan itu.

Setelah beberapa hari, si pelukis kembali membaca buku komentar pengunjung. Kali ini, dia tersenyum senang setelah membacanya. Jika pengunjung yang terdahulu mengkritik dan melihat kelemahannya, maka komentar yang didapatkannya kali ini berisi banyak pujian dan kekaguman atas lukisan yang dibuatnya. Bahkan, banyak dari hal-hal yang dikritik waktu itu, sekarang justru dipuji.

Dari kedua pameran lukisan yang diadakannya, si pelukis mendapatkan sebuah pembelajaran bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Apa pun yang kita kerjakan, sehebat, dan sesempurna apa pun menurut kita, ternyata di mata orang lain, ada saja kelemahan dan kritikannya. Namun, pastilah ada juga yang memuji dan menyukainya. Jadi, tidak perlu marah dan berkecil hati terhadap komentar orang lain. Asalkan kita mengerjakan semua pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan dilandasi niat baik, itulah persembahan terbaik bagi diri kita sendiri.

Rabu, 09 April 2008


cutex_cerdas On The Blog





Tawwa...

Seriusnya...

cutex_cerdas@yahoo.co.id

Berkibar Dengan Motivasi

"Orang pesimis melihat kesulitan di setiap kesempatan. Orang optimis melihat kesempatan di setiap kesulitan." - Winston Churchill

"Begitu Anda mengganti pikiran-pikiran yang negatif dengan yang positif, Anda akan mulai mendapatkan hasil yang positif." - Willie Nelson

"Manusia adalah produk dari pikirannya. Ia menjadi apa yang ia pikirkan." - Mahatma Gandhi

"Bila Anda memiliki keyakinan, harapan dan cinta, Anda dapat membesarkan anak yang positif di sebuah dunia yang negatif." - Zig Ziglar

"Beda Antara bisa dan tidak bisa hanyalah lima huruf. Lima huruf yang menentukan arah hidup Anda." - Ramez Sasson

"Orang-orang besar dinilai besar karena kualitas positif yang dimilikinya, bukan karena mereka tidak pernah berbuat salah." - Anonymous

"Jika Anda tidak suka sesuatu, ubahlah. Bila Anda tidak bisa mengubahnya, ubahlah cara Anda berpikir mengenainya." - Mary Engelbreit

"Motivasi adalah sesuatu yang membuat Anda memulai, Kebiasaan adalah sesuatu yang membuat Anda melanjutkan." - Jim Ryan

"Hal-hal besar tidak dicapai secara tiba-tiba, melainkan melalui perpaduan dari serentetan hal-hal kecil yang dilakukan dengan baik dan sempurna." - Vincent Van Gogh

Belajar Dari Orang Sukses

Kalau kita ingin tahu, ternyata orang-orang yang kita lihat sekarang ini sebagai orang-orang besar dan sukses ternyata adalah orang-orang yang dahulu memiliki sebuah mimpi besar dalam kehidupannya. kekuatan mimpilah yang menggerakkan hasrat mereka dalam mewujudkan apa yang menjadi impiannya. kalau dilihat kembali ternyata mimpi-mimpi yang mereka miliki adalah mimpi yang besar, sehingga hasil yang mereka rasakan dan kita lihat juga sebuah hasil yang besar...

Selasa, 08 April 2008

Maju Terus, Jangan Pernah Menyerah...

Tersebutlah seorang ayah yang memiliki 4 orang anak yang memiliki profesi sebagai kuli bangunan. Sehari-hari pekerjaan tidak jauh dari tembok basah yang kotor ditengah terik matahari. Namun itulah yang dijalani sebab belum ada cara lain untuk menafkahi istri dan keempat anaknya. Niatnya tentu ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tetapi bagaimana bisa dengan pendidikan yang hanya sekolah dasar hanya bisa untuk pekerjaan kasar.

Suatu waktu ada pekerjaan membangun sebuah rumah yang dekat dengan SMA. Tentu saja anak-anak sekolah sering kali terlihat saat masuk kelas, keluar kelas, atau kegiatan di luar kelas seperti bermain bola basket. Sang Ayah sering mengamati anak-anak sekolah tersebut sehingga munculah pertanyaan di dalam hatinya, “apakah anak-anaku bisa sekolah seperti mereka?”

Pertanyaan tersebut terus diingat. Setiap langkahnya selalu diiringi oleh pertanyaan tersebut, bisakah anak-anaku sekolah tinggi? Bisakah mereka sekolah lebih tinggi dariku? Bisakah mereka memiliki kehidupan yang lebih baik dariku? Saking mendalamnya, dalam setiap perbincangan pun sering kali cita-cita mulia ini tercetus ke dalam mulutnya.

Seperti biasa, komentar positif dan negatif muncul. Ada yang mendukung ada juga yang pesimis. Bukannya mendukung malah mematahkan motivasi sang ayah.
“Jangan memaksakan diri, terima aja apa adanya”.“Kenapa harus susah payah? Dengan pendidikan seperti ini pun kita masih bisa hidup?” kata salah seorang saudaranya yang sama-sama seorang kuli bangunan dan juga berpendidikan lebih rendah.


Namun sang Ayah memiliki tekad yang kuat. Biarlah banyak orang yang mengatakan sesuatu tidak mungkin, sebab yang menentukan ialah Allah. Jika Allah menghendaki, maka segala sesuatu akan terjadi, tidak ada yang tidak mungkin. “Laa haula wa la quwwata illa billah” inilah kalimat yang selalu menjadi pegangan dalam upayanya meraih cita-citanya.

Waktu pun dilalui dengan kerja keras, tidak pernah menyerah, dan berserah diri kepada Allah saat menemui kesulitan. Alhamdulillah karirnya di dunia bangunan ada peningkatan. Mungkin, naiknya karir ini akibat memiliki motivasi yang sangat tinggi sehingga bekerja dengan penuh dedikasi. Dari mulai seorang helper, kemudian menjadi tukang (ahli), dan akhirnya menjadi seorang mandor dan pemborong. Saat itu anak terbesar sudah menginjak bangku SMA.

Namun Allah menghendaki hal yang lain, manajemen tempatnya bekerjanya mengalami rotasi kepemimpinan. Pemimpin yang baru mengeluarkan berbagai kebijakan yang sangat menekan bawahannya sehingga akhirnya sang Ayah mengundurkan diri. Beralih membangun sebuah bisnis yang tidak bertahan lama sebab ditipu oleh mitra kerjanya. Kehidupan pun kembali sulit, padahal saat itu anak-anaknya sudah menginjak bangku kuliah.

Namun sulitnya hidup tetap dijalani dengan tetap bekerja keras dan banyak berdoa. Tahajudnya rajin sekali. Waktu malam sering kali dihabiskan oleh berdzikir dan berdoa. Waktu siang, tetap bekerja keras ditengah tenaga yang mulai berkurang serta kesehatan yang mulai terganggu. Namun semuanya dijalani dengan teguh dan tetap memegang kalimat “Laa haula wa la quwwata illa billah”. Semuanya tidak sia-sia. Cita-citanya tercapai. Semua anaknya mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan tiga dari empat anaknya mengenyam bangku kuliah.

Meski sang ayah saat kini sudah tiada, tetapi meninggalkan sebuah warisan yang tidak akan pernah habis bagi anak-anaknya. Bukan harta, sebab hartanya habis untuk menyekolahkan anak-anaknya tetapi sebuah pelajaran akan keteguhan dalam meraih cita-cita.

Jangan pernah menyerah!

www.cerita-motivasi-islami.com

Selasa, 01 April 2008

Pesan Motivasi, Pencerminan Semangat Kehidupan

"If you've been waiting for the sign to start reaching success, perhaps this is it! So.. don't keep waiting for big and perfect chances, instead, take any small chances flashing in your eyes, and struggle to achieve big and perfect successes..."

"Bila anda menantikan tanda untuk mulai meraih sukses, mungkin kata motivasi ini adalah salah satu tandanya! Jadi.. janganlah terus menanti datangnya kesempatan yang tampak besar dan sempurna, sebagai gantinya, jelilah dalam menemukan peluang-peluang kecil dalam hidup Anda yagn lewat di depan mata, dan berjuanglah untuk menjadikannya sukses besar dan sempurna!"

"You can expect to see human's real potention under emergency and death or alive situation"

"Sering Anda akan dapat melihat potensi besar manusia dikala seseorang sedang dalam kondisi yang kritis dan penuh tekanan"

"Big achievement & success in the future is usually defined by our ability to manage and avoid the easy choices in the present time"

"Kesuksesan besar di masa datang biasanya ditentukan oleh kendali kita untuk memanage dan menghindari pilihan-pilihan yang memudahkan dimasa sekarang"

"You'll never know your real potention until there's condition that capable of conceal your true quality"

"Anda tidak akan pernah tau potensi terbesar sebenarnya dari diri Anda hingga ada kondisi yang akan sanggup membuka fakta kemampuan terbesar diri Anda"

Kamis, 27 Maret 2008

Inspirational Letter

Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.

Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.

Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.

Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja

Seorang anak berkata kepada ibunya: “Ibu hari ini sangat cantik.Ibu menjawab: “Mengapa?Anak menjawab: “Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah.
Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.

Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.Temannya berkata: “Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur.Petani menjawab: “Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku.

Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.

Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: “Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?

Ada yang menjawab: “Cari mulai dari bagian tengah.” Ada pula yang menjawab: “Cari di rerumputan yang cekung ke dalam.” Dan ada yang menjawab: “Cari di rumput yang paling tinggi. Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: “Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana .

Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.
Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.”Katak di pinggir jalan menjawab: “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah.”Beberapa hari kemudian katak “sawah” menjenguk katak “pinggir jalan” dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.

Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.

www.motivasi.web.id

Menguapkan Senyuman

Dikutip dari Perkataan Elia Abu Madhi (dalam Buku La Tahzan)

orang berkata, "langit selalu berduka dan mendung"
Tapi aku berkata, "tersenyumlah, cukup duka cita di langit Sana"

Orang berkata, "masa muda telah berlalu dariku"
Tapi aku berkata,"tersenyumlah, bersedih menyesali masa muda tak kan pernah mengembalikannya"

orang berkata, "langitku yang ada dalam jiwa telah membuatku merana dan berduka. janji-jani telah mengkhianatiku ketika kalbu telah menguasainya. bagaimana mungkin jiwaku sanggup mengembangkan senyum manisnya.
Maka akupun berkata,"Tersenyum dan berdendanglah, kala kau membandingkan semua umurmu kan habis untuk merasakan sakitnya.

sungguh, kita sangat butuh senyuman, wajah yang selalu berseri, hati yang lapang, akhlak yang menawan, jiwa yang lembut, dan pembawaan yang tidak kasar.

"sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian berendah hati, hingga tidak ada salah seorang di antara kamu yang berlaku jahat pada yang lain dan tidak ada salah seorang diantaramu yang membanggakan diri atas yang lain" (Al-Hadits)

Menyadarkan Diri Dengan Secerah Cahaya Ilahi

Jangan lupa dan selalu praktekkan :

1.Bismillahhirrahmannirrahim: pada tiap-tap hendak melakukan sesuatu.

2.Alhamdulliah: pada tiap-tiap habis melakukan sesuatu.

3.Astagfirrullah: jika tersilap mengatakan sesuatu yang buruk.

4.Insyaallah: jika ingin melakukan sesuatu pada masa akan datang.

5.Lahaulawalaquataillahbillah: bila tidak dapat melakukan sesuatu yang agak berat atau melihat sesuatu yang buruk.

6.Innalillah: jika menghadapi musibah atau melihat kematian.

7.Laailaahaillallah: bacalah sepanjang siang dan malam sebanyak-banyaknya.

Rabu, 26 Maret 2008

“MENCIPTAKAN STABILITAS KEAMANAN PANGAN”

TULISAN KEDUA SAYA INI JUGA TELAH DIMUAT PADA HARIAN KALTIM POST
PADA BULAN MARET 2008.

Keamanan pangan merupakan titik tolak lemahnya sistem ketahanan pangan negara kita. Berita terbaru hasil penemuan rekan-rekan IPB yang menemukan adanya bakteri sakazakii (enterobacter sakazakii) pada susu formula yang telah banyak beredar sekian lama di negara ini. Meski ini kejadian kesekian kalinya yang mengancam keamanan pangan nasional setelah diantaranya ditemukannya kandungan minyak babi pada penyedap rasa, formalin, boraks, berkembangnya tanaman transgenik, serta kasus daging busuk di TPA Bantar Gebang merupakan persoalan pelik yang mengancam kondisi hajat hidup orang banyak di dalam negeri yang carut marut dengan banyak masalah ini. Meski BPOM telah melakukan pengawasan rutin termasuk pengambilan sample serta pengujian terhadap berbagai obat dan makanan serta kosmetik yang beredar,
Sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan maka kondisi keamanan pangan perlu mendapat perhatian serius karena jika masalah ini berlarut-larut bisa dibayangkan masa depan bangsa ini. Berbicara masalah keamanan pangan maka kita akan masuk ke zona konsumsi, maka pentingnya pengetahuan konsumsi dalam hal ini gizi dan kesehatan masyarakat perlu ditingkatkan guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang cerdas, unggul, dan berdaya saing.
Pengaruh terhadap pencemaran pangan ini adalah zat-zat berbahaya yang terkandung didalam makanan tersebut yang baik secara kimiawi maupun mikrobiologi mengancam jiwa dan kesehatan, lihatlah dampak yang ditimbulkan secara akumulatif dengan berbagai macam penyakit kulit, kanker, peradangan pada sistem pencernaan, menurunnya kecerdasan, bahkan dapat berujung pada kematian. Juga penyebaran hewan-hewan impor yang merupakan buangan dari negeri luar perlu diwaspadai karena kemungkinan hewan-hewan tersebut membawa penyakit anthrax (sapi gila) yang sangat berbahaya.


Penemuan IPB terhadap bakteri sakazakii pada beberapa susu formula yang meski diakui penemuan tersebut bertentangan dengan hasil penemuan BPOM, namun ini mengindikasikan dua hal yaitu, disatu sisi penelitian dan pengujian yang dilakukan BPOM terhadap susu formula ini lemah karena didahului oleh lnstitusi pendidikan IPB, namun disisi lain menunjukkan peran aktif bersama (IPB, BPOM, serta informasi masyarakat) yang dilakukan untuk menjaga keamanan pangan yang mengancam hajat hidup orang banyak ini sesuai dengan pasal 1 UU No. 7 Tahun 1996 tentang pangan yang menyebutkan keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia. Yang tentunya pengamanan ini dilakukan secara bersama-sama secara integrative dan berkelanjutan.

Memperketat Pengawasan
Tentunya peran BPOM sebagai garda terdepan dalam hal pengawasan dan pengujian perlu ditingkatkan sesuai dengan anjuran Pasal 45 PP No. 28 Tahun 2004 Tentang Keamanan Pangan, mulai dari premarket evaluation sebelum pemberian izin dan post market control setelah produk beredar. Mengendalikan produk-produk impor yang masuk ke dalam negeri yang mengancam, selain itu pengawasan dari institusi pendidikan ditambah peran masyarakat untuk memberikan informasi mengenai masalah yang mengancam keamanan pangan juga sangat diperlukan sesuai anjuran PP No. 28 Tahun 2004 Tentang Keamanan Pangan. Pengawasan kepada produk-produk pangan olahan di pasaran yang tidak memiliki ijin, menggunakan zat additive berbahaya, serta telah mengalami masa kadaluarsa juga perlu di perketat mulai dari produksi, penyimpanan, hingga distribusi pangan yang sesuai dengan standar kemanan pangan nasional.


Peningkatan Koordinasi
Melihat masalah keamanan pangan ini tidak boleh dipandang sebagai urusan badan atau sektor tertentu tapi memerlukan perhatian secara holistik. Penguatan koordinasi BPOM pusat dan daerah juga sangat penting sebagai tumpuan dalam mengawasi banyaknya produk konsumsi yang beredar. Ditambah dengan peningkatan koordinasi dengan Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Sektor Pertanian secara luas, Departemen Kesehatan, LSM, Lembaga-Lembaga Penelitian, serta masyarakat juga patut dilibatkan dan berperan serta mewujudkan stabilitas keamanan pangan nasional. Apa yang ditunjukkan oleh IPB setelah menemukan banteri tersebut (tanpa mempublikasikan susu formula yang tercemar) dengan langsung melakukan koordinasi dengan BPOM dan DEPKES merupakan langkah yang tepat untuk menghindarkan keresahan masyarakat serta untuk memperkuat pengujian dan penelitian lebih lanjut terhadap pencemaran produk tersebut.


Peningkatan Sosialisasi
Pemerintah perlu menyebarluaskan kepada masyarakat himbauan untuk bisa pandai-pandai dalam memilih pangan atau produk olahan yang ingin dikonsumsi juga peningkatan sosialisasi back to nature dibanding produk olahan yang cenderung rentan terhadap kesehatan, meningkatkan pengetahuan konsumsi masyarakat akan gizi dan pengaruhnya terhadap kesehatan melalui kegiatan-kegiatan penyuluhan yang berkelanjutan, serta membuka ruang untuk menerima masukan dari masyarakat akan masalah-masalah yang dihadapi terkait produk-produk pangan bermasalah yang beredar.


Kesemua tindakan-tindakan strategis diatas bertujuan agar masyarakat dapat mengetahui dan bisa mengkonsumsi produk-produk yang sehat dan bermutu serta untuk menjamin produk-produk yang beredar aman secara kimiawi maupun secara mikrobiologis sehingga mekanisme penguatan keamanan pangan sebagai bagian integratif dari sistem ketahanan pangan dapat mewujudkan masyarakat indonesia yang sehat, makmur dan sejahtera sesuai dengan impian UUD 1945.